DIBALIK SERUAN PAHLAWAN
Oleh Ferady aziska
Kabut,
Dalam kenangan pergolakan bumi pertiwi
Mendung,
Pertandakah hujan deras
Membanjiri asa yang haus kemerdekaan
Dia dan semua yang ada menunggu keputusan sakral
Serbu.... Merdeka atau mati.. Allahu Akbar
Titahmu terdengar kian merasuk dalam jiwa
Dalam serbuan bambu runcing menyatu
Kau teruskan bunyi-bunyi ayat suci
Kau teriakan semangat juang demi negeri
Kau relakan terkasih menahan terpaan belati
Untuk ibu pertiwi..
Kini kau lihat,
Merah hitam tanah kelahiranmu
Pertumpahan darah para penjajah keji
Gemelutmu tak kunjung sia
Lindungan-Nya selalu dihatimu
Untuk kemerdekaan Indonesia abadi..
Kemerdekaan
Sauh riuh lantang bergema
Titik akhir hilirnya asa
Gema menyusup ke nadi-nadi
Menggenggam asa baru, lahirnya sebuah negeri
Terperanjak haru tulang belulang
Meski jauh di dalam bumi yang ayu
Hai anak dan cucu-cucuku
Kini aku tak merasa menjadi sia
Bukan apa atau apa yang di pinta
Pernah lebih dulu sebenarnya aku ada
Melayang tak tampak putih bak berkabut
Ku kawal hingga akhir lantangnya engkau bergema
Kan kembali aku dalam saf-safku
Meski tak tentu mana pangkal dan ujungku
Tenang kembali dalam bumi ayuku
Tebar bunga dan do'a menjadi piagamku
Suara Hati Untuk Bangsa Penjajah
Menangis pedih hati ini teringat
Merintih perih jiwa ini terngiang
Masa masa di mana semua orang tak punya kebebasan
Hari –Hari di kala semua tercengkal oleh aturan kejam
Wahai bangsa penjajah dimana hati nuranimu?
Apakah engkau tidak mempunyai mata hati ?
Dimana sebenarya rasa kemanusiaanmu berada ?
Sungguh kejam kau perbuat waktu itu
Manusia kau perlakukan seperti binatang
Kau pekerjakan paksa orang–orang tak berdosa
Mereka menangis, merintih , dan menahan keluh
Dan kau diam saja lagi senang
Memang,sudah sepantasnyalah engkau binasa dari muka bumi ini
Oleh Ferady aziska
Kabut,
Dalam kenangan pergolakan bumi pertiwi
Mendung,
Pertandakah hujan deras
Membanjiri asa yang haus kemerdekaan
Dia dan semua yang ada menunggu keputusan sakral
Serbu.... Merdeka atau mati.. Allahu Akbar
Titahmu terdengar kian merasuk dalam jiwa
Dalam serbuan bambu runcing menyatu
Kau teruskan bunyi-bunyi ayat suci
Kau teriakan semangat juang demi negeri
Kau relakan terkasih menahan terpaan belati
Untuk ibu pertiwi..
Kini kau lihat,
Merah hitam tanah kelahiranmu
Pertumpahan darah para penjajah keji
Gemelutmu tak kunjung sia
Lindungan-Nya selalu dihatimu
Untuk kemerdekaan Indonesia abadi..
Kemerdekaan
Sauh riuh lantang bergema
Titik akhir hilirnya asa
Gema menyusup ke nadi-nadi
Menggenggam asa baru, lahirnya sebuah negeri
Terperanjak haru tulang belulang
Meski jauh di dalam bumi yang ayu
Hai anak dan cucu-cucuku
Kini aku tak merasa menjadi sia
Bukan apa atau apa yang di pinta
Pernah lebih dulu sebenarnya aku ada
Melayang tak tampak putih bak berkabut
Ku kawal hingga akhir lantangnya engkau bergema
Kan kembali aku dalam saf-safku
Meski tak tentu mana pangkal dan ujungku
Tenang kembali dalam bumi ayuku
Tebar bunga dan do'a menjadi piagamku
Suara Hati Untuk Bangsa Penjajah
Menangis pedih hati ini teringat
Merintih perih jiwa ini terngiang
Masa masa di mana semua orang tak punya kebebasan
Hari –Hari di kala semua tercengkal oleh aturan kejam
Wahai bangsa penjajah dimana hati nuranimu?
Apakah engkau tidak mempunyai mata hati ?
Dimana sebenarya rasa kemanusiaanmu berada ?
Sungguh kejam kau perbuat waktu itu
Manusia kau perlakukan seperti binatang
Kau pekerjakan paksa orang–orang tak berdosa
Mereka menangis, merintih , dan menahan keluh
Dan kau diam saja lagi senang
Memang,sudah sepantasnyalah engkau binasa dari muka bumi ini
Tidak ada komentar:
Posting Komentar